“Aku hanya bisa memberimu cinta yang berpijar dari hati…,” ucapnya suatu sore menjelang senja di sebuah kafe murahan. Kami hanya memesan es teh manis, plus 2 potong pisang goreng. “Kuharap kamu mau mengerti betapa ketulusan hati jauh lebih berharga dari kemilau berlian….” **** Rumah yang kucari ini lebih tepat disebut kastil. Tak ada rumah lain di sekitarnya. Ya, hanya sendiri berdi…
Jauh sebelum Penulis Mustofa Sentot disemburit secara paksa, divonis satu setengah tahun penjara, dituduh semena-mena oleh pemred koran Kompos, dan bahkan sebelum ia bisa menulis kalimat yang buruk sekalipun, ia lebih dulu mengenal Pengarang Dodit, pencerita ulung yang mengembuskan napas terakhirnya beberapa saat sebelum pengantar paket sampai di depan rumahnya. Kumpulan cerita pendek be…
Sejak dipublikasikan pertama kali pada tahun 1978, kumpulan cerita pendek berjudul Objecto Quase (Hikayat Benda-Benda) ini mempertegas kemampuan dan kerja kreatif Saramago dalam penguasaan teknik-teknik yang diperlukan untuk menyuguhkan bentuk cerita yang lebih pendek. Sebagai master of suspense, ia begitu memukau kita dengan peralihan halus dari pernyataan tajam dan pengalihan-pengalihan yang …
Dalam cerita-cerita empuk ini Elok Teja Suminar melukiskan persoalan perempuan-perempuan Madura: keresahan dan harapan mereka yang ingin mendapat kesempatan menyampaikan pemikiran, keinginan, dan menjadi teman diskusi yang sebanding dalam setiap pengambilan keputusan dalam keluarga. Pada sudut pandang yang lebih luas, Elok memotret konflik personal manusia-Madura dengan tradisi, agama, serta…
ecameron: Hari Kedelapan, Kisah Ketiga Giovanni Boccaccio Belfagor: Kisah Iblis yang Memperistri Manusia Niccolo Machiavelli Madonna Zilia Matteo Bandello Rosso Malpelo Giovanni Verga Pemikiran Hermes Torranza Antonio Fogazzaro Air Mancur Pietrarsa Renato Fucini Para Penyembah Berhala Gabriele d’Annunzio Jas Berekor Luigi Pirandello …
Setiap mendengar kata kuburan, yang berkelebat dalam ingatan kita adalah tentang nisan, gundukan tanah, kijing, kembang, atau nuansa horor yang memunculkan beragam cerita seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, dan sebangsanya. Kuburan seolah bayang-bayang kelam akan sebuah ruang masa depan. Anggapan demikian tidak salah. Lumrah adanya. Sementara kata imperium, ruang pikir kita tentu tertuju …
“Andai aku diberi pilihan tentang suatu negeri Kukatakan bahwa engkau adalah negeriku Jika aku melupakanmu, oh kekasih hidupku Maka hatiku yang tulus juga akan melupakanku Jika aku tersesat di tengah jalan Di matamu alamatku”
Jika Anda pernah membaca karya-karya Joko Pinurbo (Jokpin), tentulah Anda akan kerap teetawa, lalu manggut-manggut. Itu karena Jokpin piawai betul berpuisi dgn humoris plus reflektif. Puisi-puisinya adalah candaan-candaan yang anti-puitik --tetapi tepat di titik ini jugalah ia sangat estetis. Jika Anda membaca cerpen-cerpen Embah Nyutz ini, tepikanlah ekspektasi cerpen sastra, estetis, apalagi …
pakah payung membenci atau mencintai hujan? Aku bertanya kepada pantun, dan dia menjawab, “sampiran dan pesan padaku sudah jauh terpisah, dan aku bukan lagi aku!” Dan kau mencoba mempertemukan dengan payung dan hujan. Jalan kota, taman, dan sirene ambulans, memberi kata padaku, “Sedia payung…,” sebelum suara lain, “…dan biarkan hujan,” kata payung itu. Dan kau mungkin tahu…