PERPUSTAKAAN HUDA ASSYIFA | MAN KOTA MAGELANG

NPP: 3371011L1000001

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of RAJAB SYAMSUDIN : Si Penabuh Dulang
Penanda Bagikan

Text

RAJAB SYAMSUDIN : Si Penabuh Dulang

Deddy Arsya - Nama Orang;

“Jika aku berada di pihak si pandir Rajab Syamsudin, aku akan menanggalkan pekerjaan itu,” kata ayahku dahulu ketika menceritakan kisah ini kepada kami. “Dapatkah kau bertahan membayangkan dirimu adalah seorang yang ditugaskan membawa peluru ke mana-mana, tapi tak pernah diberi kesempatan memegang senjata, bahkan sepucuk bedil pun ‘haram’ untuk dapat kau letuskan?”
[Rajab Syamsudin si Penabuh Dulang]

“Tak tahu diuntung kau. Berhenti sajalah kau sekolah!” Ibu melecutnya lagi dengan ranting berduri itu. Betis yang telanjang, yang hitam legam karena berpanas-berhujan, kini bergaris-garis merah sisa lecutan. Mata Siak melembap. Dari jejak lecutan, mengalir darah.
Pergilah sekarang, celaka kau nanti dipukul Ibu, kata saya dalam hati. Kau tahu bagaimana kalau Ibu berang? Pergilah sekarang, celaka kau nanti!
Siak diam saja. Ibu melecutnya lagi.
[Isak Siak]

Puluhan tahun yang lalu Barzanzi dan ibuku masih tinggal dalam satu rumah gadang, wajah mereka nyaris mirip sama sekali kecuali pada sudut mata yang satu lancip dan yang lain tumpul. Mereka hidup dalam adat yang taat sebagai keluarga raja-raja. (Tapi ibuku memilih kawin dengan ‘orang biasa’ dan mendapat cercaan sepanjang umurnya).
[Rumah Kecil di Seberang Jalan]

Dia hendak menuruni tangga kapal ketika ingatan pada mimpinya tiba-tiba menghentikannya. Beberapa hari belakangan ini, dia terbayang lagi leher-leher yang putus tertebas parang, decap bunyi anak panah menghunjam kulit tubuh, atau letusan meriam yang menyalak tiada henti.
Dan kini, mereka akan memasuki kancah pertempuran yang lain lagi. Ke Sumatera, ke Sumatera, mereka akan berhadapan dengan prajurit-prajurit Bonjol yang terkenal tak bisa dikalahkan. Entah ruh macam apa yang telah merasuki prajurit-prajurit berseragam putih-putih itu hingga mereka seperti tak mengenal kata takut sedikit pun, begitu dia mendengar di Batavia.
[Langit Bandar Padang]

Sipasanrimbo hanya berdiri mematung di belakang Mamuaya. Ia lebih sering menatap ke bawah, ke arah tanah. Ia masih tak percaya: apa yang pernah disebutkan ibunya ketika ia masih kanak-kanak, kini akan dikerjakannya, dan nanti akan dipelajarinya dengan saksama. Ia mencoba meyakinkan dirinya, bahwa tak semua orang mendapati kesempatan seperti yang sebentar lagi, ia yakin, sebentar lagi, akan ia alami. Hanya keluarga tertentu saja yang tahu dan mampu melakukan ritual ini. Dan kaumnya adalah satu di antaranya, kata ibunya pernah bercerita.
[Tenung yang Berjalan Malam]

Deddy Arsya tekun melihat tempat kelahirannya dari banyak sisi, merekamnya di kepala, untuk kemudian disajikan kepada pembaca setelah diramu melalui olahan katanya. Sebagian terasa menyentil, sebagiannya lagi seperti sajian alam Sumatra Barat yang nyaman untuk dinikmati.
Melalui kumpulan cerpen ini, kita dapat menyaksikan Padang dari berbagai sisi; mulai dari yang sudah sering tersiar hingga kisah yang paling samar.


Ketersediaan
#
My Library (Rak Buku) 808.3
0000000177
Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
808.3 ARS r
Penerbit
Yogyakarta : DIVA Press,., 2017
Deskripsi Fisik
200 hlm ; 14 X 20 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
9786023913213
Klasifikasi
808.3
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
Agama
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN HUDA ASSYIFA | MAN KOTA MAGELANG
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan Huda Assyifa dirintis bersamaan dengan berdirinya MAN Kota Magelang. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 137 tanggal 11 Juli 1991 Madrasah Aliyah Negeri Parakan Temanggung Filial di Kota madya Magelang menjadi Madrasah Aliyah Negeri ( MAN 1 ) Kota Magelang dan mulai tahun 1996 pindah di Jalan Raya Payaman Nomor 01 Telepone (029)369256

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?