Text
Khotbah si Bisu / Deddy Arsya
Puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi juga diartikan sebagai gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat. Puisi merupakan ungkapan perasaan yang dihayati oleh penyairnya ke dalam suatu bahasa. Puisi juga merupakan cara penyampaian tidak langsung seseorang terhadap sesuatu hal yang berkaitan dengan naluri estetika, emosi, dan perasaan jiwa yang dialami seseorang. Puisi berfungsi sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan terhadap suatu hal atau peristiwa. Dibutuhkan kemampuan dalam mengolah kata dan melihat situasi untuk menulis puisi yang sarat akan makna.
Buku “Khotbah Si Bisu” adalah buku kumpulan puisi karya Deddy Arsya. Kumpulan puisi Khotbah Si Bisu merupakan kumpulan puisi ketiga yang memuat 47 puisis. Buku ini berlatar historis yang sangat kental yang dapat dilihat dari kode-kode dengan muatan makna tak langsung. Puisi-puisi Deddy Arsya mengeksplorasi trauma sejarah masyarakat Minangkabau. Deddy mampu bergerak rileks antara masa silam dan masa kini. Ia mampu menguraikan kisah dengan ungkapan-ungkapan padat serta merinci peristiwa dengan citraan-citraan menarik. Ia juga mampu mengolah pengaruh penyair sebelumnya dan menemukan yang khas miliknya.
Sinopsis
Tapi khatib-khatib di masa ketika pihak pemberontak telah dikalahkan telah dijemput dari rumah istrinya, dinaikkan ke atas truk dan diturunkan di sawah berawa-rawa untuk dibenamkan hidup-hidup. Khatib-khatib lain tidak lagi berani berkata apa-apa di atas mimbar, dan shalat jumat berlangsung begitu cepat, didahului oleh khotbah si bisu. Tentara pendudukan dari seorang perdana menteri tambun yang baru beberapa bulan saja berkuasa, menuliskan naskah khotbah untuk setiap khatib yang berani naik mimbar, dengan upah dua gantang beras.
Di tangan Deddy Arsya … sejarah bukan sekadar
comotan peristiwa masa lampau, melainkan tafsir,
bagian dari khazanah penghayatannya. Dia memberi kita alternatif dalam melihat sejarah dan dunia kita hari ini ....
—Majalah TEMPO
Tidak tersedia versi lain