Text
Emak, Aku Minta Surgamu, Ya...
“Kita,” kata Seroja, “tak bisa membuat semua orang menyukai kita, tetapi kita pun tak bisa membuat siapa pun untuk membenci kita. Yang penting, kita tahu bahwa kita tak melakukan kesalahan.”
***
Dua kakak beradik—Pak Haris dan Mak Ijah—saling berebut sawah warisan orang tua. Mereka sama-sama tidak ingin mengalah. Keduanya merasa sebagai pemilik sah sawah itu. Dan, kebencian di antara keduanya menurun pada anak-anak mereka, terutama pada Nugroho, anak kandung Haris.
Nugroho adalah pemuda yang hidup berkecukupan dan dapat menikmati pendidikan hingga perguruan tinggi. Sedangkan, sepupunya, Dimas, anak Mak Ijah, harus puas tinggal di sebuah gubuk dan putus sekolah.
Keduanya bak bumi dan langit. Nugroho begitu membenci Dimas. Namun, tidak demikian dengan Dimas. Sayang, Nugroho menganggap Dimas bersikap munafik. Tentu saja, keadaan pun makin hari makin jauh dari kata damai.
Lantas, bagaimanakah nasib Mak Ijah dan anaknya?
Sebuah novel yang benar-benar layak untuk kita simak. Dengan gaya penceritaan yang lincah dan lembut, kisah berwarna murung ini dapat menjadi cermin betapa mengerikannya efek dari menanam rasa iri dan rakus dalam jiwa seorang manusia!
Tidak tersedia versi lain