Text
GERIMIS DI ATAS KERTAS
MENUNGGU AYU
Tapi Ayu bisa dekat dengan siapa saja. Ia baik dan ramah. Tidak ada yang pernah mencoba menjahili Ayu. Kehadirannya tidak menyakiti dan tidak disakiti siapa saja.
Dulu, rasa-rasanya Ayu tidak cantik. Dia jadi cantik setelah pergi tanpa pamit.
GERIMIS DI ATAS KERTAS
“Kak,” aku memberanikan diri menatap matanya.“Kakak bisa membaca pikiran orang?”
Kak Fajar menggeleng.“Mana ada yang begituan.”
“Kakak bohong.”
“Kalau saya sudah jujur, dan kamu tetap suruh saya jujur dengan penjelasan lain, artinya kamu sedang nyuruh saya bohong.”Kak Fajar tersenyum.
CAKWE KOTA TUA
“Saya ragu Kak Sastri mau!”Anggik yang pertama protes.
“Kalau belum dicoba, kan, belum tahu.”Kamu tersenyum simpul.
Benar: kamu ingin mengajak Sastri membuat sebuah warung kopi terbuka di pesisir Pantai Ampenan. Warung kopi yang sederhana, dengan menu istimewa kopi unik Parid dan cakwe Sastri.Akan ada pula sejumlah buku yang bisa dibaca di tempat, gratis.
Sebuah warung kopi literasi.
Tiga cerita, dua gaya penulisan sudut pandang, satu benang merah: komunitas. Di Pulau Lombok jalinan cerita saling bersinggungan ini terjadi.Tentang anak muda, tentang cinta,dan tentang dunia yang serbabergerak.
Tidak tersedia versi lain