Aku tak menghitung berapa jarak yang telah kutempuh mencarimu, tapi kau tahu aku akan berjalan sendiri di kota yang kata-katanya bukan cuma milikku. Banyak yang harus kita tanggalkan untuk menjadi tunggal, dan kau satu-satunya yang kuinginkan tinggal di dalam tabah tubuhku. Aku tak terbiasa dengan sepi yang hadir di cangkir kopi. Tapi kau berdiam di sana, tempat waktu membekukan; kau…
“hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke” Selarik kata-kata dari Amanat Galunggung itu jika diterjemahkan, kira-kira begini artinya: ada masa lalu maka ada masa kini, tak akan ada masa kini kalau tidak ada masa lalu. Mereka, masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersatu dalam satu tubuh. Tubuh waktu. Puisi bagi saya adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Puisi mencari…
Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram. . Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan: "Bagaimana tidurmu semalam? Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya? Tadi saya nunggu lama di kuburan."
Puisi Galeh membawa kita ke wilayah pantulan-pantulan historisisme: imajinasi sebagai jembatan untuk mengalami gelembung waktu dan sejarah yang purna-manusia. Tetapi bahasa belum terguncang oleh prosedur pengada digital di mana algoritma akan mengguncang bentuk-bentuk penciptaan, termasuk puisi, yang pernah menjadi bagian dari pengada kemanusiaan kita. Buku ini sedang membuat jalan ke sebuah ar…
Puisi-puisi saya dalam antologi ini secara khusus memaktub tema lokalitas, baik itu konstelasi sejarah, mitos, atau objek pariwisata. Lokalitas sebagai dasar penciptaan bukan semata dalam rangka mengagungkan alam sekitar, atau mempromosikan kepada publik agar punya nilai yang layak jual. Lebih dari itu, lokalitas adalah panggung pengindraan yang memunculkan respons intuitif yang lebih sinergis …
Aku merindukan sungai kecil Pada kedua matamu Aku melihat dirimu Sebagai pagi, bait puisi Juga impian Aku mendapatimu Pada segala hal yang menggairahkan Aku sudah melampaui dosa-dosa malam Aku sudah memaafkan Zaman edan pada dirimu
bulu matamu: padang ilalang Di tengahnya sebuah sendang Kata sebuah dongeng. Dulu ada seorang musafir datang bertapa untuk membuktikan apakah benar wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang Ia tak percaya, maka ia menyelam Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus maha dalam. Arwahnya menjelma pusaran air berwarna hitam Bulu matamu: padang ilalang.
Puisi membawa saya melakukan perjalanan. Meninggalkan rumah. Memasuki kota demi kota. Memahami dunia di luar diri. Memahami hal-ihwal kesedihan dan kebahagiaan. Puisi menjadi kekasih, kawan perjalanan, ibu, sekaligus guru bagi kehidupan saya. Saya menulis puisi dalam setiap perjalanan, namun hakikatnya puisi yang menuntun saya untuk memahami setiap perjalanan. Saya sering kali merasa bermain-ma…
Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam percakapan puitik Rieke Diah Pitaloka dan Agus Noor. Dari satu puisi ke puisi lainnya, ada semacam tema yang membuat puisi-puisi itu saling terkait dan terikat. Puisi menjadi ruang untuk saling berbagi, juga menjadi semacam jeda, untuk menikmati kenangan dan hal-hal lainnya. Maka, puisi-puisi dalam buku ini, seakan berada dalam ketegangan yang menga…
Berbeda dengan puisi tema lain yang kadang memiliki motif tertentu, entah itu politis maupun estetis, bagi saya puisi cinta—meminjam istilahnya Umbu Landu Paranggi—adalah puisi “zero referensi”. Puisi yang tak membutuhkan rujukan laiknya puisi dengan tema yang lebih spesifik. Begitu pun puisi bertema maut (dalam pengertian luas) yang menjadi bagian kedua di buku ini. Sebagaimana cint…